Papua, sebuah kisah sebuah cerita

Haii gan, sist, mas, mbak, kang, mbakyu….nggak terasa dah berapa abad ane nggak corat coret disini. Tapi ane harus berterima kasih sama salah satu Presiden Terpilih kita, si Kaesang Pangarep yang heboh banget akhir-akhir ini di sosmed karena baru sekarang anak presiden yang lumayan somplak, ane jadi inget kalo ane punya blog. Terakhir kali ane posting sekitar setahun yang lalu, pantesan aja waktu ane buka ini blog dah banyak sarang laba-laba dan berdebu. Garing ya…hahahaha..bodo amatlah.

Kali ini ane nggak bakalan corat coret masalah hape, dah bosen ane maenan gituan. Semakin diikutin semakin kering kantong ane, gimana nggak kering setiap mau upgrade gadjet, si kanjeng mami dah asah parang sama pasang muka monster (kok malah curhat gor???). Oke fokus-fokus, sekarang ane mau sedikit flasback salah satu pengalaman yang sangat-sangat WOOW bagi karir hidup ane (serius, di CV ada ini). Pengalaman ane hidup di ujung timur Indonesia, batas dengan negara tetangga sebelah, dan menjelajah dunia yang baru banget bagi ane.

 

Kota paling timur Indonesia, kota Merauke, Papua. Kota yang mempunyai julukan Kota Rusa, padahal selama ane disana jarang banget liat rusa di alam bebas, mungkin rusanya sudah pindah ke wajan mace-mace penjual nasi kuning daging rusa. Karena tuntutan pekerjaan, makanya ane bisa blusukan di kota itu, maklumlah ane hanya buruh yang dibayar untuk kekuatan fisik, bukan pikiran. Sebelum ane kesana yang ada dalam pikiran bakalan tidur di Hanoi dan pake pakaian rumput alang-alang. Ternyata ane salah, ane tetep tinggal di perumahan dan masih pake kolor dan kaos oblong. Masih bisalah nyepik pacar di bbm atau cari muka dengan calon mertua…hahahaha. Tapi itu ternyata bukan lokasi kerja ane, itu hanya kantor regional yang sudah emang seharusnya di kota. Lokasi kerja ane masih naek kendaraan 4 jam dan naek kapal 3 jam (nelen ludah ane waktu itu).

 

Sebelum ane kerja di Papua, ane kerja di kota besar yang berbatasan dengan Bandara Changi, kota dengan kelap kelip lampu disko – eh lampu jalanan maksudnya, dan kota yang walaupun di luar Jawa tapi tetap ada angkringannya. Sekarang ane harus bekerja di lokasi yang berbeda 180 derajat dari kerjaan ane awal. Untung ane titisan Raden Mas Tumenggung Kalidjo yang sudah sudah mengembara dari desa Samas ke desa Kebonan jadi nggak terlalu kaget dengan perbedaan itu (nggak nyambung gor!!!!). Desa pertama yang saya injak adalah desa Wayau di Distrik Animha, sumpah gan view disana kereen banget. Mata ane yang sebelumnya ngantuk jadi terang benderang ketika melihat alam yang begitu keren. Alam yang nggak mungkin agan temuin di sumpeknya kota-kota besar di Jawa. Desa kecil yang asri dengan warganya tinggi, besar, dan gelap warna kulitnya (iyalah gor, itu di Papua, bukan di Cina).

 

Sedikit adaptasilah ane disana, dengan perilaku masyarakat sana yang beda jauh sekali dengan orang Jawa, dengan kondisi lingkungannya yang super duper woow. Bayangin aja untuk mandi kita harus nunggu air hujan, kalo nggak ada hujan ya mandi di Sungai ama Rawa. Kalo dah mandi di sungai atau rawa bukan ular atau buaya yang ane pikirkan gan, tapi keperjakaan ane yang masih suci ini yang ane kawatirin. Hanya istri ane nanti yang boleh liat lekuk tubuh ane yang menawan ini. Untuk makannya pun nggak kalah woow, dari perusahaan ‘hanya’ ngasih bekal beras, mie instan, sama ikan kaleng untuk kita makan. Kalo buat ane yang sudah biasa makan makanan basi sih nggak apa-apa, tapi kadang kita merasa bosen juga dengan makanan ini. Mau nggak mau kita harus berburu untuk tambahan lauk kita gan, ya walaupun yang jalan berburu masyarakat setempat saja, ane nunggu bobo’ manis saja di kamp. Minimal dapatlah burung dan ikan, kalau untung ya dapat rusa atau saham (sejenis kanguru).

Selama kurang lebih setahun aktivitas ane hanya jalan-jalan saja, tapi bukan di mall atau pasar. Jalan-jalan masuk keluar hutan, mendaki gunung, lewati lembah (serasa jadi Ninja Hattori). Ane juga pernah masuk ke hutan yang bener-bener masih perawan, bahkan orang sana pun belom pernah masuk sana. Hahahahhaa….bener-bener gila, untung nggak diculik. Tapi itu semua bener-bener kenangan yang sampai saat ini masih ane kangenin. Dan suatu saat nanti ane berharap pengen balek lagi kesana, minimal menikmati alamnya yang masih alami dan keramahan pace dan mace Papua.

188923_4566003823261_1841330429_n

Ini sedikit foto ane sama pace-pace Papua, kalo mau liat lebih banyak bisa maen-maenlah ke FB ane.

 

 

One thought on “Papua, sebuah kisah sebuah cerita

  1. Pingback: Kilas Balik Gorie di 2014 | Zie Zone

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s